Minggu, 11 Desember 2016



Pengertian dan Analisis Korelasi Sederhana dengan Rumus Pearson
 
Korelasi Sederhana merupakan suatu Teknik Statistik yang dipergunakan untuk mengukur kekuatan hubungan 2 Variabel dan juga untuk dapat mengetahui bentuk hubungan antara 2 Variabel tersebut dengan hasil yang sifatnya kuantitatif. Kekuatan hubungan antara 2 variabel yang dimaksud disini adalah apakah hubungan tersebut ERAT, LEMAH,  ataupun TIDAK ERAT sedangkan bentuk hubungannya adalah apakah bentuk korelasinya Linear Positif  ataupun Linear Negatif.
Perlu diingat :
Koefisien Korelasi akan selalu berada di dalam Range -1 ≤ r ≤ +1
Jika ditemukan perhitungan diluar Range tersebut, berarti  telah terjadi kesalahan perhitungan dan harus di koreksi terhadap perhitungan tersebut.
Rumus yang dipergunakan untuk menghitung Koefisien Korelasi Sederhana adalah sebagai berikut :
(Rumus ini disebut juga dengan Pearson Product Moment)

r =               nΣxy – (Σx) (Σy)                   
.         √{nΣx² – (Σx)²} {nΣy2 – (Σy)2}


Dimana :
n    = Banyaknya Pasangan data X dan Y
Σx = Total Jumlah dari Variabel X
Σy = Total Jumlah dari Variabel Y
Σx2= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel X
Σy2= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel Y
Σxy= Hasil Perkalian dari Total Jumlah Variabel X dan Variabel Y


Pola / Bentuk Hubungan antara 2 Variabel  :
1. Korelasi Linear Positif  (+1)
Perubahan salah satu Nilai Variabel diikuti perubahan Nilai Variabel yang lainnya secara teratur dengan arah yang sama. Jika Nilai Variabel X mengalami kenaikan, maka Variabel Y akan ikut naik. Jika Nilai Variabel X mengalami penurunan, maka Variabel Y akan ikut turun.
Apabila Nilai Koefisien Korelasi mendekati +1 (positif Satu) berarti pasangan data Variabel X dan Variabel Y memiliki Korelasi Linear Positif yang kuat/Erat.
2. Korelasi Linear Negatif (-1)
Perubahan salah satu Nilai Variabel diikuti perubahan Nilai Variabel yang lainnya secara teratur dengan arah yang berlawanan. Jika Nilai Variabel X mengalami kenaikan, maka Variabel Y akan turun. Jika Nilai Variabel X mengalami penurunan, maka Nilai Variabel Y akan naik.
Apabila Nilai Koefisien Korelasi mendekati -1 (Negatif Satu) maka hal ini menunjukan pasangan data Variabel X dan Variabel Y memiliki Korelasi Linear Negatif yang kuat/erat.
3. Tidak Berkorelasi (0)
Kenaikan Nilai Variabel yang satunya kadang-kadang  diikut dengan penurunan Variabel lainnya atau kadang-kadang diikuti dengan kenaikan Variable yang lainnya. Arah hubungannya tidak teratur, kadang-kadang searah, kadang-kadang berlawanan.
Apabila Nilai Koefisien Korelasi mendekati 0 (Nol) berarti pasangan data Variabel X dan Variabel Y memiliki korelasi yang sangat lemah atau berkemungkinan tidak berkorelasi.
Contoh ketiga Pola atau bentuk hubungan tersebut jika di gambarkan ke dalam Diagram Scatter (Diagram tebar) adalah sebagai berikut :




Contoh soal:
1.     Diketahui data dari sewa ruko dan hasil penjualan Pak Andi sebagai berikut:

Biaya sewa (juta rupiah)
1
2
3
4
5
Hasil penjualan (juta rupiah)
2
3
4
5
6

Dari data Pak Andi di atas buatlah diagram pancar,carilah koefisien korelasi beserta penjelasanya!
Jawab:
Diagram pancar:
Biaya sewa ruko (X)
Hasil penjualan (Y)
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6




Koefisien Korelasi
X
Y
X2
Y2
XY
1
2
1
4
2
2
3
4
9
6
3
4
9
16
12
4
5
16
25
20
5
6
25
36
30
15
20
55
90
70

Penjelasan Metode Least Square      
      
r = n∑XY - ∑X ∑Y / √ (n∑X2 – (∑X)2)(n∑Y2 – (∑Y)2)
r = 5(70) – (15)(20) / √ (5(55)    (15)2) (5(90)– (20)2)
r = 350 – 300 / √(275 – 225) (450 – 400)
r = 50 / √(50) (50)
r = 50 / √2.500
r = 50 / 50
r = 1
Jadi jenis korelasi antara biaya sewa ruko dan hasil penjualan itu termasuk dalam korelasi positif dengan tingkat keeratanya sempurna.

Sumber  rangkuman:
http://teknikelektronika.com/pengertian-analisis-korelasi-sederhana-rumus-pearson/